[Oct 20th 2007, 07:11] Cara Cepat Jadi Kaya
Kapankah waktu yang paling cepat dan paling tepat untuk menjadi kaya? Sekarang.
Ketiadaan. Kehampaan. Kekosongan. Adalah sumber dari segala sesuatu. Potensi tanpa batas. Sumber yang tak ada habisnya. Kekal.
Pikiran yang diarahkan pada Kekosongan menghasilkan apa yang dibayangkan oleh pikiran tersebut.
Manusia dapat membentuk pikirannya sebagai apa saja, dan dengan mengarahkan pikiran ini pada Kekosongan menyebabkan terciptanya apa saja yang dipikirkan.
Untuk dapat melakukan ini, manusia harus meninggalkan pikiran kompetitif menuju pikiran kreatif; karena itulah sifat dari Kekosongan, senantiasa kreatif dan takkan pernah kompetitif.
Untuk sepenuhnya hidup harmonis dalam Kekosongan, manusia harus senantiasa bersyukur dan bergembira atas apa saja yang telah diberikan/dijadikan dari Kekosongan. Rasa syukur menyatukan manusia dengan Kekosongan itu, sehingga pikirannya pun terjadi di dalamnya. Manusia dapat mempertahankan kondisi harmonis dan persatuan dalam dimensi kreatif ini dengan senantiasa bersyukur di setiap saat dan situasi.
Manusia harus berlatih untuk bisa membentuk gambaran mental yang jelas dan nyata atas apa yang ia inginkan; dan ia harus berpegang teguh pada gambaran mental ini dalam pikirannya, semua itu sambil senantiasa menanamkan rasa syukur dan terima kasih yang mendalam pada Yang Kuasa bahwa segalanya – yang diinginkannya – itu telah diberikan kepadanya.
Untuk dapat menerima apa yang diinginkannya itu, manusia harus aktif; dan keaktifan ini haruslah bersifat lebih dari sekedar menempati situasi/posisinya saat ini dalam kehidupan. Ia harus melebihkan nilai yang bisa ia berikan/perbuat dalam setiap tindakannya; dan ia harus memegang teguh prinsip Pikiran yang Maju, yaitu bahwa setiap manusia lainnya yang terlibat dalam kehidupannya melihat setiap tindakannya senantiasa membawa peningkatan dan kemajuan bagi semua orang.
Singkatnya: inilah 4 pilar.
Kehendak. Kendalikan pikiran. Arahkan pada kreatifitas, bukan kompetisi. Kreatifitas adalah kejelasan. Singkat dan padat. Buang, usir dan jangan biarkan apapun yang bisa menimbulkan kemunduran dan emosi yang mengeruhkan pikiran. Itulah kehendak: kekuatan yang mengendalikan pikiran, lahir dari ketiadaan ego dan dikuatkan oleh disiplin.
Kesadaran diri. Rasa syukur. Rasa syukur melahirkan penerimaan diri atas segala sesuatu yang terjadi atau yang tidak, yang dimiliki atau yang tidak oleh diri sendiri. Rasa syukur mempertajam seluruh indera kita, karena dengan penerimaan diri atas kenyataan kita tidak lagi membuang energi untuk memilah-milih yang mana yang boleh diterima atau tidak. Kenyataan tidak dipilah-pilih. Kenyataan diterima. Itu saja, apa adanya. Dan rasa syukur adalah cara untuk mencapai keadaan itu.
Iman. Adalah harapan. Dengan adanya kehendak dan kesadaran diri seseorang dapat mencapai iman, yaitu harapan atas sesuatu. Harapan yang dihidupi dengan keyakinan bahwa harapan itu telah tercapai. Inilah yang membedakan iman dari sekedar keinginan, menghidupi harapan dengan keyakinan bahwa harapan tersebut telah tercapai membuat seseorang bebas lepas dari ikatan duniawi meskipun ia memiliki “keinginan” yang sifatnya duniawi.
Cinta. Dengan ketiga hal itu terhidupi dalam diri: kehendak, kesadaran diri dan iman, seseorang akan memancarkan cinta sejati. Cinta tanpa syarat. Cinta yang bukan sekedar “melengkapi” hidup seseorang. Cinta yang adalah hidup itu sendiri! Itu, kaya yang sejati.
- 3 comment(s)
- Submit your comment, click here





Latest Comment