[Aug 3rd 2007, 04:26] Cinta Harus Menderita!
Siapa orang gila yang bilang itu!?
Cinta itu gembira, senang, damai. Dengan cinta, kita bisa lepas dari segala kesusahan yang melanda. Bahagia. Begitu, kan?
Enak saja! Buka mata, lihat kenyataan. Hidup tidak semudah itu, bung! Segala sesuatunya untuk bisa diperoleh harus melalui perjuangan. Perjuangan, yang membutuhkan penderitaan, menuntut pengorbanan.
Ah. Jadi manusia, kok, “susah” sekali, sih.
Bahagia tidak sama dengan gembira, senang, damai. Kalau disempitkan sebatas itu-itu semua, sedikit saja keluar dari batasan definisi gembira, senang, damai, maka kita tidak bahagia.
Bahagia juga tidak sama dengan perjuangan, penderitaan, pengorbanan. Lah, orang-orang “beruntung” yang bisa bergembira, senang dan damai tanpa melewati semua itu berarti tidak bahagia, dong?
Bahagia adalah semua itu: gembira, senang, damai, perjuangan, penderitaan, pengorbanan. Semua, pada tempatnya masing-masing.
Bahagia bukan sekedar kemampuan bisa bersikap gembira hati di saat sedang susah. Itu, sih, menipu diri. Juga tidak dengan memandang setiap kegembiraan yang kita peroleh dengan hati-hati, “takut” bahwa kita tidak pantas memperolehnya karena tidak “menderita” terlebih dahulu. Atau takut pada masa depan yang menghantui kegembiraan saat ini.
Bahagia adalah kemampuan untuk hidup di masa kini. Menikmati dan menempatkan kegembiraan, penderitaan atau kedamaian yang dirasakan saat ini tanpa melebih-lebihkan. Bahagia adalah kemampuan untuk menerima segala sesuatunya sebagai apa adanya. Untuk bebas-lepas dari keterikatan fisik dan makna yang ditawarkan ego atas segala sesuatu yang kita persepsikan di dunia ini.
Temukan bahagia yang seperti ini. Temukan cinta.
- 7 comment(s)
- Submit your comment, click here





Latest Comment